Bahasa Indonesia (id) | Ganti Bahasa (Change Language)


[Catatan Editor: Untuk pertanyaan, komentar, atau berbagi pengalaman pribadi tentang topik ini, kunjungi ECHOcommunity Conversations: African Swine Fever Virus]

Virus Flu Babi Afrika dan Dampaknya pada Produksi Daging Babi (Pork) Global

Seiring dengan meningkatnya kemakmuran global, permintaan akan protein hewani juga meningkat. Daging babi telah menjadi daging hewan darat yang paling banyak dikonsumsi, yaitu sebesar 37% dari total konsumsi daging dunia (Beltrán-Alcrudo dkk., 2017). Produksi daging babi meningkat paling drastis di wilayah Asia (Gambar 1), menyumbang sebesar 55% dari produksi daging babi global pada tahun 2018 (FAOSTAT, 2018).

Nilai produksi daging babi bruto global telah bergerak mencapai sekitar 300 miliar USD sejak 2011 (FAOSTAT, 2020). Namun pada tahun 2018, semua ini menjadi berubah akibat merebaknyaVirus Flu Babi/ASFV di Asia. Virus mematikan ini telah menyusutkan populasi babi dan produksi daging babi global serta konsumsi protein babi. Selama dua tahun terakhir, diperkirakan lebih dari 25% populasi babi dunia telah mati akibat serangan virus ini (Niederwerder dkk., 2020).

AN46 Figure 1

Gambar 1 Jumlah babi di seluruh dunia (x 1.000.000) berdasarkan kawasan mulai dari 1961 sampai 2014 (FAOSTAT. 2016)

Asal, Gambaran dan Penyebaran Virus Flu Babi

Virus Flu Babi (Afrikan Swine Fever Virus/ASFV) adalah satu-satunya anggota keluarga virus Asfarviridae. Seperti arti yang terkandung dalam namanya, virus ini berasal dari benua Afrika. Di benua tersebut virus ini tersebar meluas. Inang yang memfasilitasi penyebaran virus ini adalah kutu bertubuh lunak (genus Ornithodoros) dan anggota keluarga babi lainnya (Suidae). Babi peliharaan atau babi domestik dan babi hutan (Sus scrofa) sangat rentan terpapar virus ini. Berbagai jenis babi hutan lokal umumnya tidak menunjukkan gejala virus ini tetapi mereka bertindak sebagai inang dan penyebar virus (OIE, 2019).

Sebagian besar dari 32 isolat virus ini tersebar di seluruh wilayah Afrika. Pada tahun 1957, salah satu isolat memasuki wilayah Portugal dari Afrika Barat. Isolat ini kemudian menyebar ke seluruh Eropa, sebagian wilayah Karibia, dan Brasil. Di negara-negara ini virus tersebut berhasil diberantas, tetapi di Spanyol dan Portugal virus ini masih tetap bertahan hingga tahun 1990-an (Beltrán-Alcrudo dkk., 2017). Wabah yang saat ini merebak di Eropa dan Asia dimulai pada tahun 2007 ketika isolat ASFV yang lain memasuki Republik Georgia dari Afrika bagian tenggara dan secara bertahap menyebar ke seluruh wilayah Eropa (Beltrán-Alcrudo dkk., 2017). Pada tahun 2017, Rusia mengalami wabah ASFV yang kemudian menyebar ke wilayah China bagian utara pada tahun 2018. Sejak itu, isolat ini kemudian menyebar ke seluruh China dan sebagian besar wilayah Asia Tenggara (Schneider, 2020).

Penularan dan Diagnosis

Memahami PenyebaranVirus Flu Babi Afrika

Di Afrika, virus ini menyebar di kalangan hewan inangnya yaitu kutu dan babi hutan. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan babi peliharaan yang telah terinfeksi dan melalui materi terinfeksi yang secara tidak sengaja diperkenalkan oleh manusia. Di Eropa, babi hutan memainkan peran penting dalam penyebaran penyakit ini (Tabel 1). Sedangkan di Asia, virus ini sebagian besar menular dari babi peliharaan yang satu ke babi peliharaan lainnya dan melalui manusia yang menyebarkan materi yang telah terinfeksi (Beltrán-Alcrudo dkk., 2017). Ini berarti bahwa dengan memberikan pendidikan yang tepat dan biosekuriti yang ditegakkan oleh masyarakat maka pencegahan total dan pemberantasan penyakit ini di wilayah Asia merupakan sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan. Inilah yang terjadi dalam kasus wabah virus yang terjadi di akhir 1950-an di Asia.

Tabel 1. Dampak virus Flu Babi/ASFV yang disusun menurut pengelompokan wilayah berdasarkan informasi yang diserahkan melalui Sistem Tanggap Dini (2016-2020; World Organization for Animal Health, 2020).

Wilayah

Babi

Babi Hutan/Celeng

Total

wabah

Total

Kasus

wabah

rentan

kasus

kerugian

wabah

rentan

kasus

Afrika

128

213795

61459

85539

 

 

 

    128

61459

Asia

9928

8107951

115309

6733791

631

NA

1121

10559

116430

Eropa

4271

1859480

625269

1383372

17307

NA

29513

21578

654809

TOTAL

14327

10181226

802064

8202702

17938

NA

30634

32265

832698

Hewan mulai menunjukkan tanda-tanda terinfeksi antara 4 dan 19 hari setelah terjadinya penularan. Babi dapat menyebarkan virus hingga dua hari sebelum menunjukkan adanya gejala. Hewan yang hidup cukup lama (mungkin karena strain virus yang kurang ganas) dapat menularkan lebih dari 70 hari setelah terjadinya infeksi awal. Virus Flu Babi Afrika sangat mematikan dan tangguh; menyebar melalui cairan tubuh babi seperti darah, air liur, air mata, ingus, urin, feses, dan ekskresi yang dikeluarkan oleh saluran kelamin. Darah mengangkut sejumlah besar virus. Infeksi dapat menyebar melalui kontak langsung dengan babi lain yang terinfeksi, atau dengan bersentuhan atau menelan bahan yang terinfeksi. Bahan yang terinfeksi bisa berupa apa saja yang membawa cairan tubuh yang mengandung virus, bahkan dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun. Virus ini stabil di berbagai lingkungan (Tabel 2). Virus ini mampu bertahan pada kadar pH antara 3,9 dan 13,4 dan mampu bertahan melawan siklus beku-cair. Virus ini dapat bertahan berbulan-bulan dalam daging, darah, dan permukaan yang terkontaminasi.

Bahkan tindakan mengawetkan daging, seperti pada sosis babi, tidak akan membunuh virus dan justru dapat memperpanjang umur virus (Beltrán-Alcrudo dkk., 2017). Ketahanan ini memiliki implikasi yang luas, salah satunyaadalah kecemasan terhadap pergerakan orang-orang dan kendaraan di dalam dan di sekitar peternakan. Perlu dicatat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan Virus Flu Babi/ASFV mempengaruhi manusia dan tidak ada bukti membahayakan jika menginfeksi produk daging.

Tabel 2. Ketangguhan Virus Flu Babi/ASFV di berbagai kondisi lingkungan (Beltrán-Alcrudo dkk, 2017).

Ketahanan Virus Flu babi/ASFV

Hal

Waktu Bertahan Virus

Daging dengan dan tanpa tulang, daging giling

105 hari

Daging diasinkan

182 hari

Daging dimasak (minimal 30 menit pada suhu 70C

0

Daging kering

300 hari

Daging asap, daging tanpa tulang

30 hari

Daging beku (frozen meat)

1000 hari

Daging didinginkan (chilled meat)

110 hari

Jerohan(organ dalam)

105 hari

Kulit/Lemak (bahkan yang dalam keadaan kering)

300 hari

Darah yang disimpan pada suhu 4C

18 bulan

Tinja dalam suhu ruang

11 hari

Darah membusuk

15 minggu

Kandang babi yang terkontaminasi

1 bulan

Sumber: diadaptasi dari Scientific Opinion on African Swine Fever, EFSA Journal,2010,8 (3):1556.

Waktu yang dicantumkan dalam table mencerminkan durasi yang diketahui atau diperkirakan dan akan sangat bergantung kepada suhu dan kelembaban lingkungan sekitar.

Diagnosis

Sulit melakukan diagnosis Virus Flu Babi jika kita hanya mengandalkan penilaian terhadap gejala-gejala yang kelihatan saja. Tanda yang paling jelas adalah meningkatnya kematian mendadak pada babi jantan maupun babi betina. Gejalanya sangat bervariasi dan bergantung pada virulensi virus, jenis babi, dosis paparan, rute paparan dan sifat endemik virus di daerah tersebut. Jenis virus yang kurang mematikan akan mengakibatkan tingkat kematian di bawah 60%, dan beberapa di antaranya bahkan mencapai angka serendah 10%. Namun, sekarang ini wilayah Asia menjadi tempat berkembangnya strain virus yang sangat ganas dengan tingkat kematian bisa mencapai 100% (Beltrán-Alcrudo dkk., 2017).

Hewan yang menunjukkan gejala-gejala parah (parakut) biasanya akan mengalami demam tinggi 41-42°C (3-4°C lebih tinggi dari normal; Birmingham & Quesenberry, 2000) dan kemungkinan akan mati beberapa hari sebelum menunjukkan gejala-gejala klinis. Gejala yang tidak terlalu parah (akut) akan bisa menunda kematian cukup lama sehingga ada waktu bagi babi untuk menunjukkan gejala-gejala. Meskipun demikian persentase kematiannya masih tetap tinggi, sekitar 90-100% dari kawanan ternak. Hewan akan menderita demam 40-42°C, laju pernapasan semakin cepat, kehilangan nafsu makan, dan gerak-geriknya menjadi lamban. Kematian biasanya terjadi antara 6 sampai 11 hari setelah munculnya gejala.

Babi yang terinfeksi Virus Flu Babi dapat menunjukkan salah satu gejala berikut:

  • Area ungu-kebiruan dan area bagian dalam tubuh (internal) dan bagian luar tubuh (eksternal) yang berdarah (seperti bintik atau benjolan memanjang) di telinga, perut, dan/atau kaki belakang
  • Keluarnya cairan dari mata (telinga) dan hidung (moncong)
  • Kemerahan pada kulit dada, perut, perineum (kerampang), ekor, dan kaki
  • Sembelit atau diare, yang dapat berkembang dari mukoid (berlendir atau kental—penerjemah) sampai ke kondisi berdarah
  • Muntah
  • Aborsi di semua tahap kehamilan oleh induk babi yang sedang hamil
  • Keluarnya buih berdarah dari hidung/mulut dan cairan dari mata
  • Area di sekitar ekor mungkin kotor dengan tinja yang berdarah

"Manual untuk Deteksi dan Diagnosis ASFV" Manual for ASFV Detection and Diagnosis (FAO, 2010) yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan & Pertanian PBB (FAO) menyediakan daftar gejala Virus Flu Babi di bawah ini. Temuan-temuan ini diperoleh dalam pemeriksaan postmortem (sesudah kematian) babi yang terinfeksi. Biasanya ada beberapa gejala yang hadir bersamaan (Gambar 2):

AN46 Fig2 Indo
Gambar 2. Gejala-gejala klinis dari kondisi akut Flu Babi Afrika/ASFV (Belrán-Alcrudo dkk., 2017).
  • Pendarahan di bawah kulit
  • Kelebihan cairan di jantung (hidroperikardium disertai cairan berwarna kekuningan) dan kelebihan cairan di rongga tubuh (hidrotoraks, asites)
  • Petekia (luka berdarah) di permukaan jantung (epikardium), kandung kemih, dan ginjal (pada kortikal dan pelvis ginjal/renal pelvis)
  • Paru-paru dapat menunjukkan kongesti dan petekia yang berbuih di trakea dan di bronkus, dan edema alveolar dan interstisial yang parah (dropsy)
  • Petekia, ekimosis (perdarahan yang lebih besar), dan kelebihan darah beku di perut dan usus kecil serta usus besar
  • Kongesti hepar (hati) dan perdarahan di kandung empedu

**Tidak disarankan untuk melakukan pemeriksaan postmortem di luar kehadiran dokter hewan atau petugas dinas peternakan yang terlatih, karena tindakan ini akan membuat area peternakan tersebut berisiko terpapar cairan yang tidak semestinya, yang mengandung kontaminan virus.

Diagnosis Virus Flu Babi adalah diagnosis yang sulit karena mudah dikacaukan dengan beberapa penyakit lain. Oleh sebab itu diagnostik secara definitif tidak bisa ditegakkan sebelum ada tes laboratorium yang mengkonfirmasi bahwa ini adalah Virus Flu Babi. Demam babi klasik, erisipelas babi, keracunan, salmonella, dan kondisi septikemia lainnya mudah dikacaukan dengan diagnosis Virus Flu babi. Disarankan agar produsen tidak bergantung pada prognosis mereka sendiri sampai mendapat kepastian dari seorang profesional kedokteran hewan veteriner.

Menangani Penyakit

Pencegahan dan Kontrol

Pada saat penulisan artikel ini (2021), belum ada vaksin yang tersedia untuk Virus Flu Babi, meskipun berbagai upaya sedang dilakukan untuk membuat vaksin ini. Jika dan ketika vaksin tersedia, maka vaksin mungkin merupakan tindakan pencegahan yang terbaik. Oleh karena saat ini belum ada vaksin yang efektif, maka kunci untuk memberantas dampak penyakit ini adalah dengan mencegah penyebaran Virus Flu Babi melalui biosekuriti yang gigih dan pemberantasan penyakit pada saat penyakit ini terdeteksi.

Setiap peternakan berbeda dari peternakan yang lain dan akan menangani ancaman infeksi secara berbeda pula. Ancaman virus mematikan semacam ini menuntut sebuah rencana biosekuriti yang menyeluruh sehingga semua staf dapat disadarkan dan dimintai pertanggung jawabannya. Sebuah rencana akan bisa dikembangkan dengan lebih baik jikakita meminta staf dan orang lain untuk membantu mengidentifikasi berbagai kemungkinan yang dapat menjadi jalan masuknya infeksi. Pencegahan dan pengendalian dimulai dengan memberikan pendidikan yang menyadarkan semua orang yang terlibat dalam operasi pertanian tentang besarnya bahayaVirus Flu Babi dan mekanisme penyebarannya. Manusia dianggap sebagai penyebar utama Virus Flu Babi. Mereka dengan mudah membawa materi terinfeksi yang menempel pada sepatu bot, pakaian, atau pada materi-materi lainnya. Oleh sebab itu kesadaran tim atau kelompok merupakan hal yang sangat penting.

Sebuah rencana biosekuriti dapat sesederhana membuat daftar ancaman penyakit, titik-titik masuknya, dan selanjutnya mengembangkan pendekatan untuk menghilangkan atau meminimalkan ancaman tersebut. FAO menyarankan tiga langkah biosekuriti: (1) segregasi, (2) sanitasi, dan (3) desinfeksi/penyuci-hamaan (FAO, 2010).

Segregasi/Pemisahan

Segregasi adalah tindakan mengisolasi ternak secara fisik dari kemungkinan terkena kontaminan. Kontaminasi dapat masuk ke peternakan melalui berbagai sumber seperti dari babi yang lain dan dari berbagai produk babi; kandang dan alas tidur babi dan kotoran babi; limpasan air dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di lokasi terdekat; semen/air mani babi; sepatu bot atau pakaian, pakan, kendaraan, atau hewan-hewan lain. Memisahkan babi dari kawanan babi lainnya adalah praktik terbaik, karena membatasi akses babi hanya kepada pihak-pihak yang penting saja. Interaksi karyawan dengan babi dari atau di luar peternakan harus dibicarakan bersama dan diminimalkan. Memisahkan alas kaki dan pakaian yang dikenakan di dalam area pemeliharaan babi dan di luar area tersebut merupakan tindakan yang bijaksana. Guna meminimalkan kemungkinan infeksi, mintalah kepada semua karyawan untuk memulai hari kerjanya langsung di area kandang babi terlebih dulu dan makin lama bergerak menjauh ke area lain yang berpotensi terinfeksi atau ke babi-babi yang sedang di karantina. Jangan membalik urutan ini.

Sanitasi/Kebersihan

Sebelum bersentuhan dengan babi, setiap orang atau benda harus dibersihkan dengan benar. Ini berbeda dari tindakan menggunakan disinfektan. Disinfektan sering kali tidak dapat menembus sesuatu seperti lumpur atau kotoran hewan, yang kemudian dapat menjadi titik masuk Virus Flu Babi. Banyak peternakan babi di seluruh dunia yang mengganti alas kaki, pakaian, dan mengharuskan staf untuk mandi sebelum masuk dan keluar dari area tempat babi dipelihara. Tapak ban dapat menjadi tempat bersarang materi yang terinfeksi sehingga penting untuk mencuci dan menggosoknya untuk menghilangkan materi-materi yang menempel.

Disinfeksi/Cuci-Hama

Setelah pembersihan fisik, kita juga perlu menggunakan disinfektan yang telah disetujui untuk menangkal Virus Flu Babi. Virus Flu Babi ini terbungkus rapat dan sulit dibunuh dengan disinfektan. Semua disinfektan membutuhkan waktu kontak yang signifikan supaya berhasil membunuh virus. Oleh karena itu, penting untuk tidak terburu-buru melakukan langkah disinfeksi dan perlu membersihkan secara menyeluruh sebelum melakukan disinfeksi guna memaksimalkan waktu kontak. Klorin adalah desinfektan yang handal (0,5% selama 30 menit), demikian juga yodium, ether, kloroform, formalin (30 menit) dan soda api (NaOH; 8/1000 selama 30 menit; OIE, 2019). Mandi kaki dengan menggunakan disinfektan dapat mensanitasi sepatu bot kita sebelum memasuki area peternakan. Sesudah itu kita disarankan untuk melangkah menginjak kapur guna meningkatkan pH agar lebih tinggi dari pH yang mampu dihadapi virus. Mandi disinfektan dan kapur juga dilakukan untuk kendaraan. Meskipun demikian, hal ini harus dilakukan dalam waktu yang cukup lama sehingga seluruh keliling ban kendaraan tersebut berhasil direndam atau diguyur. Ban yang telah dicuci harus dibiarkan menjadi kering terlebih dulu sebelum memasuki bak disinfektan (Dr. P. Quesenberry, Komunikasi Pribadi, 3 September 2020).

Tabel 3.  Langkah-langkah tindakan untuk mencegah Virus Flu Babi/ASFV

Potensi Sumber Kontaminasi

Langkah-langkah Tindakan

Babi-babi lainnya

Kurung babi dan karantina hewan baru di lokasi terpisah selama 30 hari; musnahkan dan kubur babi yang menunjukkan gejala Virus Flu Babi

Pemberian pakan dari sisa makanan

Ini tidak disarankan. Praktik ini harus dihindari kecuali makanan telah dimasak pada suhu 70°C selama setidaknya 30 menit.

Binatang lain misalnya hewan pengerat

Membasmi, meminimalkan sumber makanan terbuka, dan menutup titik masuk sebisa mungkin.

Sepatu (alas kaki) atau pakaian yang terkontaminasi

Ganti pakaian sebelum memasuki atau keluar dari tempat pemeliharaan babi, membersihkan diri dan melakukan sanitasi, serta meminimalkan tindakan masuk dan keluar area tersebut. Bekerjalah secara berurutan mulai dari tempat yang bersih ke tempat-tempat yang lebih kotor.

Kendaraan yang terkontaminasi

 

Minimalkan kedekatan kendaraan dengan ternak, gosok ban sehingga bersih, dan jalankan ban sehingga terendam celupan sanitasi.

Pakan

Belilah pakan hanya dari sumber-sumber yang terpercaya. Periksa apakah ada kerusakan akibat binatang pengerat dan musnahkan pakan yang sudah terkontaminasi.

Air

Sebisa mungkin hindari sumber air yang terbuka. Alihkan aliran air kotor sejauh mungkin dari peternakan.

Perlakuan panas, jika dilakukan dengan benar, merupkan metode yang efektif untuk menonaktifkan virus. Sebuah penelitian dari tahun 1967 menemukan bahwa Virus Flu Babi bisa bertahan 11-22 hari pada suhu 37°C namun pada suhu yang lebih tinggi virus ini berhasil dibuat menjadi tidak aktif dalam waktu yang lebih cepat. Virus ini hanya bisa bertahan 1 jam pada suhu 56°C, dan 15 menit pada suhu 60°C (Mazur-Panasiuk dkk., 2019). FAO merekomendasikan agar pakan yang berpotensi terkontaminasi dimasak 30 menit pada suhu 70°C (Beltrán-Alcrudo dkk., 2017). Hal ini tentunya berpengaruh pada pemberian pakan dari makanan sisa, yang saat ini menjadi penyebar utama virus.

Pencegahan oleh Komunitas

Kita tidak mungkin dapat memblokir seluruh titik yang mungkin menjadi titik masuk Virus Flu Babi ke dalam komunitas. Meskipun demikian, jika komunitas sependapat mengenai beberapa pedoman dasar, penyebaran virus akan dapat dicegah atau dikurangi secara memadai. Hal mendasar yang paling penting adalah sepakat untuk mengurung babi. Baru-baru ini, dilakukan penelitian untuk mengamati langkah pertama mengelola Virus Flu Babi di Timor-Leste. Di negara ini praktik biosekuriti sangat sedikit dilakukan. Penelitian ini menunjukkan bahwa babi-babi yang tidak dikurung atau dipagari akan menderita kerugian yang leih besar ketimbang babi yang dikurung/dipagari (Barnes dkk., 2020). Diskusi tingkat komunitas semacam ini dapat melibatkan kelompok kecil atau kelompok besar, dan dapat dilakukan dalam beragam bentuk.

Setiap komunitas akan mempunyai diskusi yang berbeda dan akan menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi diskusi dan konsensus atau kesepakatan adalah faktor kunci untuk menjauhkan Virus Flu Babi dari komunitas dan memperlambat penyebarannya.

Virus Flu Babi dapat menyebar dengan mudah dari satu negara ke negara lain di Asia. Penyelundupan produk babi lintas-batas diduga menjadi penyebab utama dari penyebaran ini. Pemerintah di berbagai negara telah menanggapi masalah ini dengan sangat serius. Untuk mengkoordinasikan berbagai upaya, pelajarilah dan taati peraturan-peraturan pemerintah lokal tentang pelaporan dan penanganan babi yang terinfeksi.

Peluang bagi Peternakan Skala Kecil

Petani kecil tetap menjadi penyumbang utama produksi daging babi di Asia. “Peternakan skala kecil” atau “operasi skala kecil” biasanya didefinisikan sebagai operasi yang memelihara 1 hingga 100 babi (Nga dkk., 2015; FAO, 2010). Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 di Vietnam menemukan bahwa peternakan-peternakan skala kecil ini menyumbang sekitar 80% dari daging babi yang dikonsumsi di dalam negeri (Nga dkk., 2015). Di China harga daging babi melonjak akibat hilangnya lebih dari setengah populasi babi di negara itu (Shneider, 2020). Kenaikan harga ini, seperti halnya di banyak negara Asia Tenggara lainnya, dapat memberikan peluang bagus untuk peternakan yang mampu tetap terbebas dari Virus Flu Babi, terutama bagi produsen yang menjual secara lokal. Pembatasan-pembatasan internasional telah diberlakukan oleh beberapa negara (Shen & Look, 2020) hal ini membuat pasar lokal menjadi sumber daging babi yang lebih stabil.

Kenaikan harga daging babi juga dapat membuka peluang bagi penjualan ayam, ikan, daging sapi, dan ternak lainnya untuk mengisi kesenjangan ketersediaan protein yang muncul. Produsen-produsen skala kecil dapat mempertimbangkan diversifikasi produksi hewan lebih lanjut untuk meminimalkan risiko dan mengambil keuntungan dari permintaan protein yang tinggi di pasar.

Kesimpulan

AN46 Fig3 Indo
Gambar 3. Laporan OIE tentang sumber wabah dan penyebarannya sejak September 2020 (World Animal Health Information & Analysis Departemen—OIE)

Baru-baru ini, virus Flu Babi Afrika merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh para peternak skala kecil di Asia. Virus ini mengusung potensi kerugian yang besar dan berubahnya mata pencaharian. Penelitian demi penelitian mendapati bahwa petani kecil dan petani pekarangan sebagai penyebar utama Virus Flu babi/ASFV, dan sangat rentan terhadap dampaknya (Nga dkk., 2015; FAO, 2020; OIE, 2020; Barnes dkk, 2020). Beberapa wabah di wilayah ini telah diklasifikasikan sebagai kasus "pekarangan" oleh pemerintah masing-masing (Gambar 3), menyisakan ruang bagi siapa yang disalahkan dan ruang bagi potensi peraturan dan bantuan pemerintah untuk tetap mendukung operasi babi konvensional besar yang lebih mampu menerapkan langkah-langkah biosekuriti yang memadai. Jika tidak dilakukan tindakan yang diperlukan maka peraturan pemerintah memiliki potensi untuk secara efektif menghilangkan porsi petani kecil dalam industri daging babi. Lebih dari waktu-waktu sebelumnya, sekarang ini sungguh penting bagi komunitas-komunitas yang menghargai dan mengandalkan operasi babi terintegrasi skala kecil untuk membuat keputusan-keputusan di tingkat masyarakat guna menghentikan penyebaran Virus Flu Babi/ASFV.

 

Pustaka

Barnes, T. S., Morais, O., Cargill, C., Parke, C. R., Urlings, A. (2020). First Steps in Managing the Challenge of African Swine Fever in Timore-Leste. One Health. Vol (10). https://doi.org/10.1016/j.onehlt.2020.100151.

Beltrán-Alcrudo, D., Arias, M., Gallardo, C., Kramer, S. & Penrith, M.L. (2017). African Swine Fever: Detection and Diagnosis – A Manual for Veterinarians. FAO Animal Production and Health Manual No. 19. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). 

Birmingham, M., Quesenberry P. (2000). Where there is no Animal Doctor. Seattle, WA. USA: Christian Veterinary Mission.

Cunningham, M., Latour, M. A., & Acker, D. (2005). Animal Science and Industry. Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2020). FAOSTAT Statistical Database. Retrieved October 10, 2020, from http://www.fao.org/faostat/en/#data/QV/visualize

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2010). Good Practices for Biosecurity in the Pig Sector- Issues and Options in Developing and Transition Countries. FAO Animal Production and Health Manual. Retrieved on Sept 12, 2020, from: http://www.fao.org/3/a-i1435e.pdf 

Iowa State University. (2020). African Swine Fever Technical Fact Sheet. The Center for Food Security and Public Health. Retrieved August 29, 2020, from http://www.cfsph.iastate.edu/DiseaseInfo/disease.php?name=african-swine-fever&lang=en 

Mazur-Panasiuk, N., Żmudzki, J., Woźniakowski, G. (2019). African Swine Fever Virus – Persistence in Different Environmental Conditions and the Possibility of its Indirect Transmission. Journal of Veterinary Research. http://doi.org/10.2478/jvetres-2019-0058

Nga, N.T.D, Lapar, L., Unger, F., Hung, P. V., Ha, D. N., Huyen, N. T. T., Long, T. V., Be, D. T. (2015). Household Pork Consumption and Behavior in Vietnam: Implications for Pro-Smallholder Pig Value Chain Upgrading. Conference on International Research on Food Security, Natural Resource Management and Rural Development. Retrieved August 21, 2020 from https://www.researchgate.net/publication/302904120 Household pork consumption behavior in Vietnam Implications for pro-smallholder pig value chain upgrading 

Niederwerder, M. C., Dee, S., Diel, D. G., Stoian, A. M., Constance, L. A., Olcha, M., Petrovan, V., Patterson, G., Cino-Ozuna, A.G., & Rowland, R. R. (2020). Mitigating the risk of African Swine Fever Virus in Feed with Anti-Viral Chemical Additives. Transboundary and Emerging Diseases. https://doi.org/10.1111/tbed.13699

OIE. (2020). Global Situation of African Swine Fever. Retrieved August 16, 2020, from https://www.oie.int/en/disease/african-swine-fever/ 

OIE. (2019). African Swine Fever. Retrieved August 1, 2020, from https://www.oie.int/en/disease/african-swine-fever/

Schneider, M. (2020, February 17). The Pork Fix: African Swine Fever and the Opportunity of Crisis in China’s Pork Industry. [Video file]. Retrieved August 01, 2020, from https://ecommons.cornell.edu/handle/1813/69876

Shen, F., Look, C. (2020). African Swine Fever: China Bans German Pork Over Fears of Deadly Hog Disease. Bloomberg Business. Retrieved September 12, 2020, from https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-09-12/china-bans-german-pork-imports-over-swine-fever-cases
 


Daerah

Asia