Bahasa Indonesia (id) | Ganti Bahasa (Change Language)
Oleh: Ken Thompson


This article is from ECHO Asia Note #28

[Catatan Editor: Ken adalah seorang utusan Injil dari Church Mission Society, Australia. Dia dan keluarganya telah tinggal dan bekerja di provinsi Mondulkiri, Kamboja, selama sebelas tahun terakhir. Ken telah menangani berbagai masalah pertanian dan kesehatan hewan yang dihadapi oleh penduduk asli di provinsi tersebut. Selama lima tahun terakhir, dia bekerja bersama gereja-gereja KEC (Khmer Evangelical Church) setempat untuk mendirikan NtukNti Center, sebuah pusat sumber daya pertanian berukuran kecil di tanah gereja, di dekat kota Sen Monorum, Mondulkiri.]

Pengantar

Bagi petani dan peneliti di daerah tropis, penyimpanan benih bisa mendatangkan frustrasi berat. Di provinsi Mondulkiri, petani jarang bisa menyimpan benih lebih lama dari enam bulan, antara masa panen dan musim tanam baru. Benih yang disimpan lebih lama dari masa enam bulan cenderung akan menyerap kelembaban dari udara sekitar yang ekstra lembab selama musim hujan sehingga kehilangan daya hidupnya, atau diserang oleh serangga hama yang berkembang biak dan menghancurkan benih tersebut. Di pusat sumber daya kami, kami ingin membangun persediaan benih dari berbagai jenis tanaman yang bermanfaat tanpa harus menanam masing-masing varietas tersebut setiap tahunnya. Namun, mirip dengan yang dialami para petani, benih kami dengan cepat kehilangan daya hidupnya atau dihancurkan oleh hama saat disimpan.


Pendinginan dan pembekuan sebagian besar benih ortodoks adalah metode yang sangat dikenal untuk memperpanjang umur benih, (Lihat ECHO Asia Note 14 “Vacuum Sealing versus Refrigeration”), namun metode ini tidak menawarkan solusi yang tepat di daerah seperti provinsi Mondulkiri yang listriknya, jika ada, tidak dapat diandalkan serta mahal. Dalam kemitraan dengan ECHO Asia dan dukungan dana dari Presbyterian Hunger Program, selama setahun terakhir para anggota staf di NtukNti telah melakukan penelitian untuk merancang dan menguji pilihan-pilihan yang tepat bagi penyimpanan benih. Dalam artikel ini kami membagikan beberapa temuan kami - metode tanpa listrik yang berguna untuk memperbaiki penyimpanan benih. Metode-metode ini bahkan dapat dimanfaatkan oleh petani yang paling miskin dan paling terisolasi sekalipun.

Pengeringan

Agar benih bisa bertahan lebih dari satu tahun namun tetap dalam keadaan bagus, maka mereka harus memiliki kadar air (KA) sebesar 10% atau kurang. Untuk bisa mencapai nilai ini dibutuhkan pengeringan menyeluruh sebelum benih di simpan. Banyak buku dan artikel memperingatkan agar tidak mengeringkan benih di bawah sinar matahari langsung, namun para petani miskin sumberdaya di daerah tropis mungkin tidak memiliki pilihan lain. Mengeringkan benih di keteduhan dengan menatanya dalam lapisan tipis akan mengurangi kadar airnya, namun bila kelembaban relatif (KR) siang hari di atas 60%, banyak spesies benih tidak akan cukup kering untuk memenuhi syarat layak simpan. Pengukuran yang kami lakukan menunjukkan bahwa di provinsi Mondulkiri, periode dengan KR 60% atau kurang hanya terjadi di masa paling kering setiap tahunnya, dan itupun hanya pada waktu yang sangat singkat di siang hari. Bibit yang baru dipanen dan dikeringkan di tempat teduh jarang cukup kering untuk disimpan lama. Di sisi lain, kami telah berhasil mengeringkan benih langsung di bawah sinar matahari sampai 9% KA meskipun di tengah musim hujan! Caranya adalah dengan menempatkan benih di nampan dangkal langsung di bawah sinar matahari dalam tiga sampai empathari cerah yang telah dipilih. Diantara saat siang di hari-hari penjemuran ini, benih disimpan dalam wadah tertutup untuk mencegah agar benih tidak kembali menyerap kelembaban dari udara sekitar yang sangat lembab pada malam dan pagi hari. Saat-saat itu kelembaban relatif cenderung paling tinggi (sering
mencapai KR> 90%).

Seringkali dalam literatur kita
diperingatkan untuk tidak
mengeringkan benih di bawah
sinar matahari langsung jika
suhunya di atas 36 °C. Namun,
kami mencatat bahwa di Ntuk Nti
suhu pada pada spesies benih
sereal dan sayuran yang
dikeringkan di bawah sinar
matahari mencapai lebih dari 50
°C, namun tidak mengurangi
kemampuan benih berkecambah.
Ini mungkin bergantung kepada
spesiesnya, jadi kami sarankan
untuk berhati-hati dengan benih
sayuran. Kami berpendapat bahwa
laju kecepatan pengeringan
mungkin lebih menyumbang
munculnya kerusakan ketimbang
suhu yang tinggi. Laju
pengeringan dipengaruhi oleh
suhu, pergerakan udara, dan KR
selama proses pengeringan. Di
daerah beriklim sedang, benih
yang dijemur di bawah sinar
matahari musim panas akan
mengering dengan sangat cepat
sehingga menyebabkan kerusakan.
Sedangkan di daerah tropis,
kelembaban yang relatif tinggi
akan membatasi laju pengeringan.
Di NtukNti, kami menjalankan
praktik memilih bibit segar yang
baru saja dipanen (seringkali
dengan nilai KA sekitar 16% atau
lebih, kemudian mengeringkannya
di tempat teduh selama beberapa
hari. Hal ini memungkinkan benih
mengering perlahan-lahan,
menghindari terjadinya kerusakan
sel. Kemudian kami
mengakhirinya dengan
menjemurnya di bawah sinar
matahari sehingga KA dalam benih
mencapai 10% atau di bawah
angka tersebut (beberapa spesies
bahkan mencapai nilai 7%) tanpa
membahayakan benih-benih
tersebut. Kami menggunakan alat
pengukur kelembaban untuk
menjalankan penelitian, tetapi
petani dapat mengetahui kapan
nilai KA 10% tercapai karena
dalam keadaan itu benih akan
pecah saat dipukul dengan palu.
Untuk informasi lebih lanjut
tentang pengeringan biji, lihat
EDN 109, dan "Prinsip
Kelembaban dan Pengeringan
Benih/Seed Moistures and Drying
Principles, Danida Forest Seed
Centre, Stubsgaard F, & Poulsen K
(1995).

Wadah/Kontainer

Begitu Anda memiliki cukup
banyak benih kering, Anda perlu
menyegelnya sehingga udara
lembab tidak akan menyebabkan
biji menyerap kembali kelembaban
dari sekitarnya. Awalnya, kami
menggunakan kontainer semacam
kaleng susu bubuk atau kaleng
Milo untuk jumlah benih yang
lebih banyak, dan wadah plastik
kecil atau botol-botol pil untuk
benih dalam jumlah kecil. Namun,
wadah seperti ini tidak benar-benar
berhasil menyegel udara lembab!
Jauh lebih baik jika kita
menggunakan botol selai atau
botol acar yang memiliki segel
karet bersih di dalam tutupnya.
Mereka bisa menyegel dengan
sangat baik jika tutupnya
dipanaskan lebih dahulu sebelum
ditutupkan ke botol. Kemungkinan
lainnya adalah menggunakan
kantong plastik Zip Lock tetapi
kantong plastik ini harus
dimasukkan ke dalam kaleng
dengan penutup yang pas, jika
tidak maka kantong-kantong ini
akan rusak oleh kecoa, semut, atau
tikus, dan benih di dalamnya pun
kemudian akan terpapar udara
lembab. Bahkan saat kantongkantong
ini dimasukkan ke dalam
wadah yang dapat melindungi pun,
hanya diperlukan munculnya
beberapa kumbang kecil di dalam
benih untuk akan mengunyah dan
melubangi kantong plastik zip lock
tersebut!
Di masyarakat kami yang berdiam
di wilayah pedesaan, umumnya
wadah-wadah di atas tidak tersedia
satupun. Karena ingin mencari
pilihan yang lebih tepat, maka
kami pun bereksperimen dengan
botol saus dari kaca, dan botol bir
untuk menyimpan benih dalam
jumlah yang lebih kecil dan jerigen
plastik besar untuk jumlah benih
yang lebih banyak. Botol saus dan
botol bir dapat diperoleh secara
gratis dalam jumlah besar dari
pembuangan sampah dan dapat
ditutup dengan penahanr dari karet
atau cakram kecil terbuat dari karet
yang dipasang di bagian dalam
botol dan di lekatkan
menggunakan isolasi yang biasa
dipakai untuk listrik. Jerigen
mudah ditemukan dan harganya
murah. Bila baru, jerigen memiliki
segel yang bekerja dengan baik.
Jerigen yang sudah lama bisa
disegel dengan kantong plastik
yang dilipat dua dan ditutupkan ke
lubang jerigen sesudah itu putar
tutupnya rapat-rapat di atas
kantong plastik tersebut. Baik
botol maupun jerigen memiliki
lubang bukaan yang sempit
sehingga untuk memasukkan biji
kedalamnya akan diperlukan
corong. Keuntungannya adalah,
keduanya mudah disegel. Juga,
saat wadah ini dibuka karena kita
membutuhkan sebagian benih
didalamnya maka lubang bukaan
yang kecil tersebut membuat sisa
benih lainnya hanya sedikit
terpapar kelembaban udara luar.
Kami telah menyimpan padi dan
kacang-kacangan dalam jerigen seperti ini selama dua tahun pada
suhu kamar tanpa mengurangi
tingkat perkecambahannya.
Semua wadah harus dijauhkan dari
sinar matahari langsung dan
sedapat mungkin diletakkan di
tempat yang sejuk agar
memaksimalkan umur simpan dan
mempertahankan tingkat
perkecambahan serta kesehatan
benih yang tinggi saat ditanam.

Reduksi Oksigen

Setelah benih kering ditempatkan
dalam wadah tertutup yang sesuai,
benih seharusnya mampu bertahan
tiga tahun atau lebih dengan tetap
memiliki daya tumbuh yang baik.
Meskipun demikian masih ada
kemungkinan kumbang atau
serangga lain bisa masuk ke dalam
benih. Jika dibiarkan apa adanya
maka mereka akan berkembang
biak. Serangga tersebut dapat
memakan biji dan/atau mereka
dapat menghasilkan uap air yang
pada akhirnya akan menyebabkan
semua benih membusuk. Kami
mendapati bahwa serangga kurang
menjadi masalah saat benih
dipanen pada waktu yang tepat,
cepat dikeringkan, kemudian
segera disimpan dalam wadah
yang penuh dan tertutup. Tetapi
jika ada penundaan dalam
pemrosesan benih atau benih di
dapat dari pihak lain maka benih
tersebut mungkin sudah
terkontaminasi oleh serangga.
Untuk memastikan bahwa benih
tidak akan membusuk dalam
penyimpanan, kita harus
mengurangi oksigen yang tersedia
bagi serangga sehingga mereka
tidak dapat bernafas dan
berkembang biak.

Salah satu praktik yang sederhana
namun efektif adalah selalu
mencocokkan ukuran wadah
dengan jumlah benih, sehingga
wadah benar-benar terisi penuh
oleh benih. Pada saat mengisikan
beih, ketuk-ketukkan wadah di atas
tanah/lantai sehingga benih akan
memadat dan benar-benar tidak
ada ruang kosong di antara benih
yang satu dengan yang lain. Isilah
wadah dengan sebanyak mungkin
benih sehingga benar-benar penuh.
Ini akan dengan segera membatasi
jumlah udara yang ada di dalam
wadah.
Jumlah oksigen dapat dikurangi
lebih lanjut dengan beberapa cara.
Jarak antarbiji dapat mencapai
40% sampai 60% (atau bahkan
lebih) dari volume wadah,
tergantung pada spesies benihnya.
Kita bisa mengurangi persentase
udara ini sampai setengahnya
dengan cara mengisi ruang antar
biji dengan pasir halus, pasir
kering, abu kayu, atau bubuk
semen Portland segar. Bahanbahan
halus tersebut dituangkan ke
bagian atas wadah yang hampir
penuh, dan terus diisi sampai
meluap dan tidak lagi terlihat ada
ruang yang kosong. Teknik ini
juga bisa digunakan untuk mengisi
ruang kosong jika tidak ada cukup
bibit untuk mengisi botol secara
penuh. Jika bahan ini betul-betul
bersih dan kering (pasir mungkin
perlu disterilkan dalam oven) maka
pengujian yang kami lakukan
menunjukkan bahwa mereka tidak
akan membahayakan benih kering
dan telah terbukti efektif dalam
mengendalikan serangga.
Teknik yang sedikit lebih sulit
(tapi lebih tidak berantakan) adalah
dengan membuat vakum di botol
yang terisi penuh. Pompa
sederhana dapat mengurangi
tekanan udara dalam sebuah botol
menjadi sekitar setengah dari
tekanan udara lingkungan, dengan
demikian mengurangi setengah
dari jumlah oksigen yang ada.

Cara termudah untuk membuat
pompa vakum adalah dengan
menggunakan pompa sepeda.
Keluarkan alat pemompanya,
balikkan tutup kulit/karet di
ujungnya, potong ujung bawah
silinder tersebut dan pasang
kembali alat pengisap tanpa
menyertakan pegasnya (Gambar
1C). Tindakan ini menghasilkan
pompa vakum yang sangat efisien
dengan harga hanya sekitar $5.
Mulut pompa ini kemudian bisa
langsung dipasang di botol atau
pada tutup wadah yang lebih besar
yang telah diisi dengan biji.
Namun, di pedesaan Kamboja,
pompa sepeda biasa sering
memiliki katup yang lebih
kompleks daripada variasi pompa
yang memakai tutup kulit sehingga
menjadi lebih sulit untuk
dimodifikasi. Oleh karena itu,
kami juga mengembangkan
beberapa pompa yang bisa dibuat
dengan lebih gampang.
Pompa pertama didasarkan pada
jarum suntik sekali pakai
berukuran 60 mL. Sama seperti
pompa sepeda, ujung dari silinder
tabungnya di potong bersih dan
lurus. Pada jarum suntik, alat

 

Seed Saving S1

Gambar 1. Tiga pompa vakum hemat biaya,
terbuat dari bahan-bahan yang mudah
ditemukan di wilayah pedesaan Kamboja: A).
pompa vakum menggunakan PVC dan bambu;
B) Pompa vakum dari jarum suntik, C) Pompa
vakum dari pompa sepeda yang dibalik.

pemompa tidak memiliki katup
pembuang udara sendiri, jadi kami
membuat satu katup dengan
mengebor sebuah lubang kecil ke
tabung suntik. Lubang ini terletak
1 cm di atas pantat botol. Sesudah
itu, ambil karet ban dalam dan
potong berbentuk kotak kecil
kemudian tempelkan menutupi
lubang tersebut. Gunakan isolasi
yang biasa dipakai tukang listrik
dan pasang mengelilingi tabung
dan di atas potongan karet tersebut.
Biarkan salah satu ujung karet
tersebut menyembul dari bawah
isolasi. Sebuah tabung suntik 60
ml harganya sekitar $0.50. Jika
Anda ingin belajar lebih lanjut,
sebuah video tentang pompa jarum
suntik bisa dilihat di saluran
Youtube ECHO Asia

Seed Saving S2

Gambar 2: Karet segel untuk mengefektifkan pompa vakum di atas
wadah yang A) besar dan B)kecil.

Pompa lainnya terbuat dari pipa
PVC kelas 8.5, sepanjang 80cm,
dengan diameter 35mm, (Gambar
1A). Pipa ini pas dengan tutup
kulit pompa biasa yang dijual di
toko-toko peralatan. Tutupnya
hanya perlu disekrupkan ke ujung
sebatang bambu yang lurus dengan
menggunakan sekrup atap,
dibasahi dulu dengan oli mesin,
lalu dimasukkan ke dalam pipa.
Katup pembuangan dibuat dengan
cara mengebor beberapa lubang
kecil di dekat ujung bawah pipa
kemudian potongan pendek ban
dalam direntangkan untuk
menutupinya. Sebuah sirip dari
ban dalam juga bisa dilipat sampai
ke ujung, sehingga terbentuk
lapisan penutup yang baik namun
lembut. Total biaya pompa ini
sekitar $ 1,00.

Seed Saving S3

Figure 2: Rubber seals for effective vacuum pumping on B) small- topped containers.

Ketiga pompa ini digunakan
dengan cara yang sama. Buatlah
katup satu arah di tutup wadah
dengan membuat sebuah lubang
kecil di tutup tersebut dan selimuti
dengan isolasi. Gunakan tambahan
karet ban dalam sedemikian rupa
sehingga popma tersegel dengan
baik (Gambar 2).

Tutup botol selai dan tutup jerigen
mempunyai bagian atas yang lebih
lebar dari pada pompa. Jadi
potonglah karet ban dalam yang
dilubangi dengan diameter 1cm.
Letakkan sedemikian rupa
sehingga lubang ini pas sebaris
dengan katup satu arah (Gambar
2A). Saat kita memompa, ujung
pompa didorong kuat melawan
karet tersebut sehingga terbentuk
segel. Untuk botol dengan leher
yang sempit, sebuah potongan
karet didorong ke leher botol pada
posisi yang memungkinkan pompa
yang Anda gunakan tertahan oleh
karet di leher botol tersebut saat
Anda memompa, sehingga
terbentuk segel (Gambar 2B).
Dalam botol/wadah berukuran
kecil, untuk mencapai kondisi
vakum yang maksimal, maka
pompa besar hanya perlu ditarik 2
atau 3 kali, sementara tabung
suntik perlu ditarik 6 kali atau
lebih. Bila vakum maksimal
tercapai, akan terlihat ada
perlawanan yang cukup kuat dan
alat pengisap akan cepat kembali
ke bawah saat dilepaskan.
Memompa sampai ke titik ini
menciptakan tekanan udara sebesar
20 InHg (inci merkuri, di dalam
botol) lebih rendah dari angka
tekanan udara di luar (Gambar 3).
Jauh lebih mudah membentuk
segel antara pompa dan leher botol
dibandingkan dengan membentuk
segel dengan stoples berleher lebar
atau jerigen. Jika tutup botol asli
telah hilang atau tutup tidak bisa
menutup dengan baik di tempatnya
maka Anda bisa membuat sebuah
cakram tebal dari ban dalam yang
dipotong dengan ukuran yang
sama dengan bagian atas botol,
diminyaki bagian bawahnya, lalu
ditempel dan biarkan ada ruanganruangan
kecil di antara selotip agar
udara bisa keluar (Gambar 2B).
Mengisi botol dengan sangat
penuh bisa membantu menyokong
cakram karet tersebut, yang jika
buatannya terlalu tipis, justru
sebaliknya, akan tersedot ke dalam
botol.

Seed Saving S4

Gambar 3.Alat pengukur tekanan sedang mengecek tekanan relatif
sebuah wadah vakum-disegel

Bilasan CO2

Pilihan ketiga yang sudah kami
amati untuk mengurangi oksigen
adalah dengan cara benar-benar
mengganti seluruh udara dalam
wadah dengan gas lain. Metode ini
nyaris tidak menyisakan oksigen
sedikitpun dan dapat membunuh
serangga dengan cepat. Teknik ini
telah digunakan untuk fumigasi
gabah yang disimpan dalam skala
besar. Sebagian bank benih
melakukannya secara rutin,
membilas semua benih dengan gas
nitrogen murni atau gas murni
lainnya sehingga semua serangga
mati karena kekurangan oksigen.

Seed Saving S5

Gambar 4. CO2 yang dihasilkan oleh ragi
dalam wadah C ditangkap dalam wadah B
sehingga memindahkan air ke wadah A.
Untuk pembilasan dengan CO2, wadah C
diganti dengan wadah yang penuh benih
dan air ditambahkan ke A. Tambahan ini
akan mendorong air ke wadah B untuk
mengganti CO2, dan menyuntikkannya ke
wadah C.

komunitas yang miskin sumber
daya, karbon dioksida (CO2) atau
biogas dapat dengan mudah
diperoleh secara hemat biaya.
Dalam percobaan-percobaan yang
kami lakukan, kami
mengumpulkan CO2 murni dari
larutan gula yang difermentasi
dengan ragi (Gambar 4). Pelanpelan
CO2 disuntikkan ke bagian
bawah wadah yang dipakai untuk
menyimpan benih melalui sebuah
sedotan, dan karena CO2 lebih
berat daripada oksigen, maka gas
ini akan mendorong oksigen keluar
dari atas botol. Video kami tentang
metode pembilasan CO2 dapat
dilihat di saluran YouTube ECHO
Asia di
https://www.youtube.com/watch?v
=P-e-LGXdv_0&feature=share.
Benih yang disimpan selama enam
bulan di dalam atmosfir pada suhu
24°C ini tidak menunjukkan
berkurangnya daya hidup benih,
jika dibandingkan dengan tingkat
perkecambahan benih prapenyimpanan
dan benih kontrol
yang divakum (dikemas dalam tas
aluminium foil yang dilaminasi
dan di vakum menggunakan
vakum komersial untuk kemasan).
Kami telah mencoba metode ini
dengan beberapa spesies, dan
sejauh ini hasilnya bagus, namun
masih ada beberapa keraguan
mengenai apakah metode ini
benar-benar aman untuk semua
spesies ortodoks (sebutan bagi
spesies yang umumnya dapat
disimpan dalam jangka panjang).
Dalam metode ini, benih juga
harus benar-benar sangat kering
sebelum dibilas dengan gas CO2.
Berhati-hatilah dalam
menerapkannya dan jalankan
eksperimen sendiri sebelum Anda
membagikan teknik ini kepada
para petani.
Kami juga mencoba metode
pembilasan ini dengan
menggunakan biogas (yang
biasanya mengandung 50% CO2
dan 50% metana). Benih yang
disimpan dengan cara ini juga
mampu bertahan dengan baik.
Pembilasan dengan biogas
berpotensi untuk menghasilkan
sejumlah besar benih dengan biaya
sangat rendah karena sekarang ini
ada banyak peternakan di Kamboja
yang memiliki generator biogas
yang mengolah kotoran babi.
Potensi ini perlu diteliti lebih
lanjut karena beberapa sumber
biogas bisa mengandung kadar
hidrogen sulfida (H2S) yang
berbahaya.
Uji-Coba yang Sedang
Berlangsung Sekarang
Selain mengendalikan serangga,
pengurangan oksigen dapat
memperpanjang masa
penyimpanan benih secara
signifikan dengan cara mengurangi
tingkat metabolisme benih dan
mikroorganisme yang mungkin
ada di dalam benih itu. Kami
melakukan uji coba jangka panjang
yang membandingkan semua
perawatan sederhana di atas,
ditambah beberapa perawatan yang
baru termasuk penggunaan butiran
pengering zeolit dan CALGLY,
cairan yang terbuat dari kalsium
klorida (CaCl2) dan gliserol.
Semua metode ini berjalan dengan
baik, tapi sejauh ini kami hanya
melakukan tes perkecambahan
pada masa 3 bulan dan 6 bulan
saja. Selama beberapa tahun ke
depan, kami akan terus mencatat
hasilnya sehingga dapat
memberikan rekomendasi yang
lebih pasti mengenai cara terbaik
untuk menyimpan benih dalam
waktu lama tanpa melalui
pendinginan.
Mohon diperhatikan bahwa zeolit
dan Calgly tidak sesuai untuk
sumberdaya yang dimiliki oleh
petani miskin, karena harganya
lebih mahal dan penggunaannya
rumit jika dibandingkan dengan
berbagai metode lain yang dibahas
dalam artikel ini. Namun, hasil ini
mungkin akan bermanfaat bagi
organisasi yang tertarik untuk
membuat bank benih di daerahdaerah
yang terpencil. Kami akan
membahas pengalaman kami
dengan zeolit dan Calgly ini dalam
bagian ke-2 dari artikel ini.

Kesimpulan

Tanpa pendinginan, kunci sukses
penyimpanan benih di daerah
tropis adalah dengan benar-benar mengeringkan benih dan kemudian
menjaga agar benih tetap berada dalam keadaan tersebut.
Eksperimen kami menunjukkan
bahwa dengan sedikit usaha dan
perhatian, hal ini dapat dicapai untuk semua spesies umum yang
telah kami uji menggunakan
kombinasi naungan dan
pengeringan di bawah sinar matahari. Bahan dari gelas/kaca yang disegel dengan baik atau
botol plastik tebal bisa terus
menjaga benih tetap kering dan
menjaga hama tidak bisa masuk.
Dengan menerapkan salah satu
dari tiga teknik pengurangan
oksigen di atas akan memastikan
bahwa hama tidak berkembang
biak di dalam benih yang kita simpan. Semua teknik ini bisa dilakukan dengan harga murah.

Bacaan Lanjutan

Di dalam EDN126, Abram Bicksler menggambarkan percobaan-percobaan serupa. Dia membandingkan pompa sepeda yang dimodifikasi dengan metode penyimpanan lainnya. Hasilnya patut diperbandingkan dengan apa yang disampaikan dalam artikel ini. Selain itu, modifikasi yang kami lakukan pada pompa ini juga membuatnya lebih efisien, sederhana dan ergonomis. Bab 7 dari “Panduan Penanganan Benih Hutan/A Guide to Forest Seed Handling” oleh FAO memberikan informasi yang sangat baik mengenai seluk-beluk penyimpanan benih: http://www.fao.org/docrep/ 006 / ad232e / ad232e07.htm.


Daerah

Asia